INFOLABUANBAJO.ID — Festival Golo Curu 2025 resmi dibuka pada Jumat (3/10/2025) dan akan berlangsung hingga 7 Oktober 2025. Perayaan budaya dan rohani tahunan yang memasuki tahun keempat ini kembali menyedot perhatian ribuan warga Manggarai. Namun di balik kemeriahannya, kritik tajam dari publik mencuat, terutama menyangkut transparansi anggaran dan minimnya strategi jangka panjang.
Kritik Publik: “Jangan Hanya Pesta Sehari, Lupa Sehari”
Meski festival ini digadang-gadang sebagai ajang promosi pariwisata dan pelestarian budaya lokal, banyak warganet mempertanyakan efektivitas dan manfaat jangka panjangnya. Salah satu kritik keras datang dari akun media sosial Reba Pitak.
“Festival Golo Curu 2025 bisa jadi peluang emas mengangkat Manggarai ke panggung pariwisata. Tapi jika pola pikirnya masih sebatas event-based spending tanpa transparansi dan strategi jangka panjang, hasilnya hanya akan jadi pesta sehari, lupa sehari,” tulisnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Komentar tersebut mendapat banyak dukungan dari netizen lain yang menilai bahwa acara ini sering kali hanya menampilkan kemeriahan sesaat tanpa diikuti kebijakan nyata untuk mendorong ekonomi kreatif secara berkelanjutan.
Ribuan Warga Hadiri Pembukaan
Terlepas dari kritik tersebut, pembukaan festival berlangsung meriah. Halaman Gereja Katedral Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dipadati ribuan warga dari berbagai latar belakang.
Festival dibuka secara resmi oleh Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, bersama Wakil Bupati Manggarai, Fabianus Abu, serta jajaran Forkopimda. Dalam lima hari pelaksanaannya, pengunjung disuguhkan beragam pertunjukan budaya, kegiatan rohani, dan pameran UMKM.
Ajang Persatuan, Tapi Butuh Perencanaan
Wakil Bupati Fabianus Abu menegaskan bahwa Festival Golo Curu merupakan momentum penting untuk mempererat persatuan masyarakat.
“Festival ini milik kita semua. Jangan lagi ada pembicaraan yang menyinggung perbedaan. Mari rayakan indahnya kolaborasi dan keberagaman,” ujarnya.
Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Ekaristi Transformatif dalam Narasi Sosial dan Ekologis”, menekankan pentingnya iman yang diwujudkan dalam aksi nyata sosial dan pelestarian lingkungan.
UMKM dan Ekonomi Kreatif: Potensi Besar, Realisasi Minim?
Menurut Ketua Panitia, Yos Nono, sebanyak 97 pelaku UMKM turut serta dalam festival tahun ini, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga hasil pertanian lokal. Festival diperkirakan menarik 3.000–5.000 pengunjung per hari.
“Festival Golo Curu bukan hanya perayaan rohani, tetapi juga wadah pelestarian budaya dan penggerak ekonomi masyarakat,” jelas Yos.
Namun sejumlah pengamat menilai, potensi ekonomi kreatif dari festival ini belum digarap secara maksimal karena belum ada peta jalan (roadmap) yang jelas untuk mengembangkan usaha-usaha lokal secara berkelanjutan setelah festival usai.
Harapan Jadi Agenda Nasional
Mgr. Siprianus Hormat menegaskan, puncak acara berupa prosesi patung Santa Maria Ratu Rosario dari Katedral menuju Golo Curu bukan hanya ritual, tetapi simbol perjalanan iman yang memperkuat komunitas dan membangun relasi sosial.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







