Warga menilai janji pembangunan infrastruktur yang berkali-kali diucapkan Bupati Edistasius Endi hanya menjadi alat politik saat masa kampanye. “Kami merasa dibohongi. Janji-janji itu hanya dipakai untuk meraih suara rakyat, bukan untuk membangun daerah,” tegas Jibril.
Wilayah Tertinggal Tanpa Perhatian
Selain persoalan jalan, warga Mataroang juga menghadapi keterisolasian akibat minimnya infrastruktur dasar. Hingga kini, mereka belum memiliki puskesmas, sekolah, jaringan listrik, maupun sinyal komunikasi.
Kondisi itu sangat kontras dengan desa-desa sekitar seperti Pateng, Lewat, Kolong, Rego, dan Pogol yang sudah menikmati infrastruktur memadai. Ironisnya, untuk mencapai Mataroang, warga harus melewati wilayah Desa Rego meskipun secara administratif Mataroang masih bagian dari Desa Lewat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesabaran Warga Sudah Habis
Rencana aksi damai ini, kata Jibril, adalah bentuk keputusasaan warga setelah bertahun-tahun bersabar menunggu janji politik yang tak pernah ditepati. “Saya tidak tega melihat orang tua, saudara, dan sahabat terus menjadi korban janji palsu. Padahal suara rakyat itu sangat berarti,” ujarnya.
Melalui aksi tersebut, warga Mataroang mendesak pemerintah daerah, khususnya Bupati Edistasius Endi, untuk segera memenuhi janji yang pernah diucapkan dan memberikan perhatian nyata terhadap pembangunan wilayah mereka.
“Sudah saatnya pemerintah membuktikan komitmennya. Jangan jadikan janji pembangunan sebagai alat politik yang selalu dilupakan setelah pemilihan usai,” pungkas Jibril. ***
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







