INFOLABUANBAJO.ID — Pembangunan kantor Desa Siru berlantai dua di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, memunculkan ironi pembangunan di tingkat desa. Di satu sisi, pemerintah desa tengah membangun kantor desa baru yang disebut lebih representatif untuk pelayanan publik. Namun di sisi lain, sejumlah wilayah di desa tersebut masih menghadapi persoalan infrastruktur dasar, terutama akses jalan yang rusak parah.
Kritik terhadap proyek pembangunan kantor desa itu datang dari kalangan pemuda setempat. Salah satunya disampaikan Ramli, pemuda Desa Siru yang menilai penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pembangunan kantor desa belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan prioritas masyarakat.
Menurut Ramli, kondisi kesejahteraan fisik masyarakat Desa Siru masih jauh dari memadai selama masa pemerintahan desa periode 2018 hingga 2026. Ia menilai dana CSR seharusnya diarahkan pada pembangunan yang lebih berdampak langsung pada kebutuhan dasar warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Desa Siru sesungguhnya belum sejahtera secara fisik selama masa pemerintahan dari 2018 sampai 2026. Anggaran CSR seharusnya diprioritaskan untuk pembangunan yang menyentuh kebutuhan primer dan sekunder masyarakat,” kata Ramli kepada Info Labuan Bajo, Minggu, 8 Maret 2026.
Ia mencontohkan kondisi jalan di wilayah lima anak kampung di Siru Kae yang hingga kini masih memprihatinkan. Jalan penghubung yang menjadi akses utama masyarakat terlihat rusak, berlumpur, dan sulit dilalui kendaraan, terutama saat musim hujan.
Menurut Ramli, kondisi tersebut menunjukkan pembangunan di desa itu belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan dasar masyarakat. Ia bahkan menyebut sebagian wilayah Desa Siru masih menyerupai daerah tertinggal.
“Ini salah satu bukti bahwa Desa Siru belum benar-benar merdeka. Jalan menuju lima anak kampung di sebelah Kali masih sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Ia berpendapat, dana CSR yang sebelumnya digelontorkan perusahaan untuk pembangunan kantor desa semestinya dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki akses jalan masyarakat. Menurut dia, dengan anggaran yang disebut mencapai miliaran rupiah, setidaknya pengerasan jalan atau lapisan penetrasi (lapen) dapat dilakukan agar akses warga lebih layak.
“Kalau dana CSR itu difokuskan untuk perbaikan jalan, saya kira kondisi jalan menuju lima anak kampung tidak akan separah sekarang,” kata Ramli.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







