Selain persoalan infrastruktur, Ramli juga menyoroti gambaran Desa Siru yang kerap muncul di media. Menurut dia, pemberitaan selama ini lebih banyak menampilkan potensi persawahan desa, sementara kondisi wilayah pedalaman yang masih tertinggal jarang mendapat sorotan.
“Di media hanya ditunjukkan potensi persawahan Desa Siru. Padahal realita di dalamnya masih ada wilayah yang sangat tertinggal. Desa Siru bisa dibilang salah satu desa 3T—terpencil, terluar, dan terdalam di Manggarai Barat,” ujarnya.
Ramli berharap pemerintah desa dan pihak terkait dapat memberi perhatian lebih terhadap pembangunan infrastruktur dasar, terutama akses jalan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk beraktivitas dan mengangkut hasil pertanian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Kepala Desa Siru, Sumardi, sebelumnya menjelaskan bahwa pembangunan kantor desa berasal dari dukungan dana CSR perusahaan swasta yang beroperasi di wilayah tersebut, yakni CV Vira Karya. Pembangunan kantor desa, kata dia, merupakan hasil kesepakatan dalam musyawarah desa yang melibatkan sejumlah unsur masyarakat.
“Prosesnya dimulai dari musyawarah desa yang melibatkan tokoh masyarakat, Badan Permusyawaratan Desa, Tua Golo Siru, serta unsur masyarakat lainnya. Dari forum itu disepakati bahwa program yang diajukan kepada perusahaan adalah pembangunan kantor desa,” ujar Sumardi, seperti dilansir Baneratv.com.
Setelah kesepakatan itu tercapai, pemerintah desa mengajukan permohonan resmi kepada perusahaan. Permohonan tersebut kemudian disetujui dan direalisasikan melalui program CSR.
Dalam pelaksanaannya, kata Sumardi, seluruh proses pembangunan ditangani langsung oleh pihak perusahaan, mulai dari pengadaan material hingga pekerjaan konstruksi. Pemerintah desa bersama masyarakat hanya menerima hasil pembangunan setelah proyek selesai dan diserahterimakan oleh perusahaan.
Pemerintah Desa Siru menargetkan pembangunan kantor desa tersebut rampung pada akhir 2026. Bangunan itu diharapkan dapat menunjang pelayanan publik bagi masyarakat desa secara lebih optimal.
Namun bagi sebagian warga, pembangunan kantor desa itu tetap menyisakan pertanyaan: ketika kantor pemerintahan dibangun megah, mengapa akses jalan menuju permukiman warga masih berkubang lumpur. Ironi pembangunan itu kini menjadi perbincangan di Desa Siru.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2






