Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan festival sebagai agenda wisata rohani. Gibran menilai Festival Paskah GMIT memiliki potensi lebih dari sekadar perayaan tahunan. Dengan pengelolaan yang profesional, kegiatan ini bisa menjadi daya tarik wisata yang berdampak langsung pada ekonomi lokal—mulai dari sektor UMKM hingga ekonomi kreatif.
Ketua Sinode GMIT, Semuel Pandie, dalam kesempatan yang sama menyematkan selendang kepada Gibran dan menyerahkan topi rajutan hasil karya kelompok disabilitas. Simbol ini menandai keterlibatan komunitas dalam perayaan, sekaligus memperkuat pesan inklusivitas yang diusung festival tersebut.
Bagi pemerintah daerah, dorongan dari pusat ini mempertegas arah baru: menjadikan perayaan keagamaan sebagai bagian dari strategi pembangunan berbasis budaya dan spiritualitas. Namun, tantangannya terletak pada konsistensi pengelolaan—apakah festival ini mampu bertransformasi dari seremoni tahunan menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gibran menutup pesannya dengan menegaskan bahwa investasi sosial seperti ini memiliki dampak jangka panjang. “Ini bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga investasi sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Di Kupang, siang itu, prosesi religius dan pesan politik berjalan beriringan—singkat, simbolik, namun sarat makna.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







