Di sisi lain, terkait dugaan adanya teror terhadap wartawan, CWB membantah tudingan tersebut. Ia meminta agar hal itu dikonfirmasi langsung kepada pihak media yang memberitakan.
“Untuk itu silakan koordinasi ke media, apa benar kami seperti itu. Itu bahasanya wartawan sesama wartawan. Belum pasti dari kami. Namanya dalam konteks berita pasti ada yang ditambah dan dikurang. Beda kalau begini, om dengar langsung dari kami. Kalau dari kami tidak ada istilahnya meneror,” jelasnya.
FL sendiri mengaku merasa tidak nyaman sejak voice note tersebut viral di media sosial. Ia menyebut hanya membagikan tangkapan layar percakapan kepada pihak tertentu sebagai respons atas situasi yang dialaminya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya kemarin itu hanya screenshot chat dan mengatakan saya merasa tidak nyaman. Itu pun saya ngomong setelah ada voice note itu. Saya merasa tidak nyaman, saya bilang sama Gordi itu,” ungkap FL.
Seperti diketahui, rekaman voice note tersebut viral setelah dibagikan oleh akun Banera TV di media sosial. Dalam rekaman itu, terdengar suara seorang perempuan yang diduga sedang menagih utang dengan menggunakan kata-kata kasar.
Isi rekaman tersebut menuai kecaman publik karena dinilai memuat ujaran tidak manusiawi, mulai dari makian hingga dugaan perintah tidak pantas kepada pihak yang berutang, termasuk menyuruh menjual diri bahkan menjual anak demi melunasi utang.
Tak hanya itu, dalam voice note tersebut juga terdengar adanya ancaman akan mencari dan memberi “ganjaran” jika bertemu di jalan.
Sejumlah warganet pun turut memberikan tanggapan keras. Salah satunya akun Robertus Pelita yang mengkritik isi voice note tersebut.
“Pemilik voice note ini telah melakukan kesalahan berlapis, mulai dari praktik rentenir, kekerasan verbal hingga dugaan memaksa orang untuk melakukan human trafficking. Sedih mendengarnya,” tulisnya.
Komentar serupa juga datang dari akun lainnya yang menilai praktik pinjaman tanpa jaminan kerap menjerat masyarakat kecil.
“Mereka bilang pinjam uang pada rentenir seperti ini mudah karena tanpa jaminan, tapi secara tidak sadar mereka telah menjaminkan jiwa mereka,” tulis akun Chcha.
Akun lain juga mendesak agar kasus ini diproses secara hukum serta mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berbicara.
Kasus ini kini menjadi sorotan masyarakat Manggarai Barat dan memicu perdebatan luas di ruang publik, khususnya terkait etika dalam penagihan utang serta potensi pelanggaran hukum atas ujaran yang disampaikan dalam rekaman tersebut.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







