INFOLABUANBAJO.ID – Politikus senior Benny K. Harman melontarkan kritik keras terhadap tindakan pelarangan dan pembubaran pemutaran film pendek Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita. Menurutnya, langkah aparat menyita proyektor dan membubarkan diskusi publik menjadi pertanda buruk bagi kondisi demokrasi di Indonesia saat ini.
Dilansir dari akun Facebook Benny Kabur Harman, dalam catatan reflektif berjudul Pesta Babi Yang Menakutkan?, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu menilai tindakan tersebut menunjukkan adanya ketakutan penguasa terhadap kritik yang disampaikan melalui medium kebudayaan.
“Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir,” tulis Benny.
Ia menegaskan, film tersebut bukan dilarang karena menyebarkan kebohongan, melainkan karena dianggap terlalu jujur menggambarkan realitas sosial dan politik yang terjadi di tengah masyarakat.
Menurut Anggota Komisi III DPR RI itu, film itu mengangkat kritik terhadap praktik pembangunan yang dinilai sarat kepentingan oligarki dan mengorbankan masyarakat adat serta lingkungan hidup. Ia bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk “neo-kolonialisme” modern yang dilakukan bangsa sendiri terhadap rakyatnya.
Benny juga menyoroti fenomena state capture atau pembajakan negara oleh kelompok oligarki. Ia menilai kebijakan publik saat ini kerap lebih berpihak kepada pemilik modal dibanding kepentingan rakyat kecil.
“Kebijakan negara tidak lagi dirumuskan di ruang publik untuk kemaslahatan rakyat, melainkan di ruang-ruang gelap dalam bentuk bagi-bagi konsesi, izin tambang, dan pelonggaran aturan,” katanya.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







