Tak hanya itu, ia mengkritik demokrasi elektoral yang dianggap semakin transaksional akibat tingginya biaya politik. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat banyak pemimpin terikat kepentingan para cukong politik sejak masa kampanye.
Dalam tulisannya, Benny meminta negara tidak bersikap represif terhadap karya seni dan kritik sosial. Ia menilai masyarakat sudah cukup dewasa untuk menilai sendiri isi film tersebut tanpa perlu ada pelarangan.
“Jika isi film dianggap keliru, bantah dengan argumen dan data, bukan dengan represi dan penyitaan proyektor,” tegasnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para pembuat film Pesta Babi yang dinilai berani menghadirkan kritik sosial melalui jalur kebudayaan di tengah melemahnya fungsi pengawasan lembaga formal.
Benny menutup catatannya dengan pernyataan bahwa pelarangan film sama saja dengan upaya memadamkan kesadaran publik.
“Biarkan layar tetap terkembang, dan biarkan rakyat yang menentukan jalannya sejarah,” tutupnya.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







