INFOLABUANBAJO.ID – Dua video yang beredar luas di media sosial Amerika Serikat dan dunia memicu gelombang reaksi keras terhadap kebijakan pemerintah AS. Video pertama menampilkan tindakan kekerasan pemukim Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat (West Bank), sementara video kedua memperlihatkan agen imigrasi AS menembakkan peluru “pepper balls” ke arah seorang pastor di pinggiran Chicago.
Kedua video tersebut tidak hanya viral secara masif di platform seperti X (Twitter), TikTok, dan Instagram, tetapi juga menjadi bahan perdebatan publik yang menyoroti isu hak asasi manusia, kebebasan sipil, dan standar ganda kebijakan luar negeri AS.
Serangan Pemukim di Tepi Barat: Dikecam, tapi Minim Tindakan
Dalam video pertama yang viral, tampak sejumlah pemukim bersenjata menyerang penduduk Palestina di salah satu desa di Tepi Barat. Rekaman berdurasi sekitar dua menit itu menunjukkan rumah-rumah yang dibakar serta bentrokan dengan warga lokal yang mencoba melindungi diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut laporan media internasional, insiden itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan sejak pecahnya kembali konflik antara Israel dan kelompok Hamas di Gaza.
Yang menarik, video itu juga menampilkan percakapan singkat yang diduga melibatkan pejabat dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem. Dalam percakapan tersebut, terdengar suara yang disebut-sebut sebagai diplomat AS meminta “penjelasan resmi” dari otoritas Israel, namun tanpa menyebutkan langkah konkret.
Tagar seperti #WestBankAttack, #DoubleStandards, dan #USForeignPolicy kemudian menjadi trending di X, dengan ribuan pengguna menuding AS melakukan “hipokrisi diplomatik” — karena di satu sisi menyerukan perlindungan terhadap warga sipil, namun di sisi lain tetap mendukung kebijakan militer Israel di wilayah pendudukan.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, menyebut serangan itu sebagai bentuk “impunitas yang terus dibiarkan oleh komunitas internasional”.
Dalam pernyataannya, Amnesty menilai rekaman video itu sebagai “bukti nyata bagaimana kekerasan pemukim meningkat dengan perlindungan militer dan diamnya negara-negara besar.”
Agen Imigrasi AS Tembak Pastor: Sorotan Baru terhadap Penegakan Hukum
Tak lama setelah video dari Tepi Barat menyebar, publik Amerika dikejutkan oleh viralnya video lain yang menampilkan agen dari U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) menembakkan peluru “pepper balls” ke arah seorang pastor kulit hitam di pinggiran kota Chicago.
Dalam video berdurasi satu menit yang diunggah pertama kali di TikTok, tampak pastor tersebut mencoba menenangkan situasi di luar sebuah gereja ketika agen ICE melakukan penggerebekan terhadap sekelompok imigran. Namun, salah satu agen tiba-tiba menembakkan peluru iritasi kimia ke arah sang pastor yang tidak bersenjata.
Video itu dengan cepat memicu kemarahan publik. Tagar #ICERacism dan #JusticeForPastor menjadi trending, dengan jutaan tayangan hanya dalam beberapa jam.
Sejumlah aktivis menilai tindakan tersebut sebagai bukti rasisme sistemik dan pelanggaran hak sipil oleh aparat penegak hukum federal.
“Ini bukan sekadar insiden tunggal. Ini adalah cerminan dari bagaimana lembaga seperti ICE sering kali menggunakan kekerasan yang tidak proporsional terhadap kelompok minoritas dan imigran,” ujar profesor hukum dari University of Illinois, Lisa Hernandez, dalam wawancara dengan Chicago Tribune.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat menyatakan bahwa investigasi internal sedang dilakukan, dan agen yang terlibat telah “dibebastugaskan sementara.” Namun, banyak pihak menilai langkah itu belum cukup.
Kekuatan Video dalam Membentuk Persepsi Publik
Kedua video tersebut memperlihatkan satu hal penting: betapa kuatnya pengaruh visual dalam membentuk opini publik di era digital.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







