“Ada hiburan, tapi juga ada kepedulian. Ini yang jarang kita lihat,” katanya.
Koordinator Singa Tua FC, Ronald Jantur, melihat antusiasme masyarakat sebagai energi tersendiri bagi timnya. Ia menyebut kehadiran warga bukan sekadar sebagai penonton, melainkan bagian dari gerakan bersama.
“Yang datang hari ini bukan hanya menonton. Mereka ikut memberi, sekecil apa pun,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Turnamen ini sendiri dirancang sebagai rangkaian kegiatan amal, bukan kompetisi semata. Singa Tua FC bahkan tidak terdaftar sebagai peserta penuh, namun tetap terlibat dalam beberapa laga sebagai bentuk dukungan.
Menurut Ronald, fleksibilitas itu justru menjadi ruang bagi timnya untuk hadir tanpa beban kompetisi, tetapi dengan tujuan sosial yang lebih jelas.
“Kami tidak mengejar juara. Kami datang untuk mendukung,” katanya.
Panitia menyebut laga penutup nantinya akan mempertemukan Singa Tua FC dengan tim dari Unika Santo Paulus Ruteng—pertandingan yang diperkirakan kembali menyedot perhatian warga.
Lebih dari sekadar pertandingan, apa yang terjadi di Reweng hari itu menunjukkan bahwa sepak bola masih memiliki daya ikat sosial yang kuat. Ia mampu menjadi medium untuk menyatukan kepentingan yang berbeda, sekaligus menggerakkan kepedulian kolektif.
Di tengah berbagai keterbatasan pembangunan di daerah, inisiatif semacam ini menjadi pengingat bahwa solidaritas kerap lahir dari ruang-ruang sederhana—termasuk dari sebuah lapangan sepak bola di desa.
Dan Singa Tua FC, setidaknya untuk hari itu, telah menunjukkan bahwa menjadi “tua” bukan berarti usang—melainkan matang dalam memberi.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2






