INFOLABUANBAJO.ID — PT Pegadaian bersama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menggandeng Putera Sampoerna Foundation (PSF) dalam mengimplementasikan Program Transformasi Sekolah di wilayah Labuan Bajo dan Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Program ini menjadi bukti nyata kolaborasi BUMN dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Inisiatif yang dimulai sejak Oktober 2024 dan akan berlangsung hingga Juni 2025 ini menyasar delapan Sekolah Dasar (SD) dengan melibatkan 30 guru dan 16 anggota manajemen sekolah. Fokus utama program ini adalah meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan Rapor Pendidikan—alat evaluasi mutu pendidikan yang merujuk pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Mengenal Lebih Dekat Rapor Pendidikan
Rapor Pendidikan merupakan instrumen evaluasi yang memberikan gambaran menyeluruh tentang kinerja satuan pendidikan. Lewat asesmen nasional (AN), Rapor Pendidikan mengukur berbagai indikator penting, seperti kemampuan literasi dan numerasi melalui AKM (Asesmen Kompetensi Minimum), serta survei karakter untuk menilai sikap dan perilaku siswa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada 11 indikator utama dalam Rapor Pendidikan, di antaranya kualitas pembelajaran, iklim keamanan dan kebinekaan, inklusivitas, serta kesiapan dunia kerja bagi lulusan SMK. Sayangnya, tidak semua guru dan sekolah memahami cara membaca dan memanfaatkan data dari rapor ini. Hal ini yang coba dijawab oleh program pelatihan yang diberikan.
Pelatihan Hybrid untuk Guru dan Manajemen Sekolah
Menggunakan platform Guru Binar sebagai media pembelajaran daring, pelatihan diselenggarakan secara hybrid. Kegiatan utama berlangsung pada Jumat, 25 April 2025, dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pendidikan dan korporasi.
Racco, S.Pd., guru dari SDN Pulau Komodo, mengungkapkan manfaat pelatihan tersebut. “Kami baru menyadari betapa pentingnya rapor pendidikan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan sekolah. Ini menjadi landasan kami dalam menyusun strategi perbaikan, khususnya dalam literasi dan numerasi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Teodosia Milja, S.Pd., guru dari SDN Lancang, menyebut pelatihan ini menjawab kebingungannya dalam merancang pembelajaran. “Saya jadi tahu bagaimana membuat pembelajaran lebih sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Kami juga belajar strategi manajemen kelas aktif dan pembelajaran kooperatif,” tuturnya.
Penulis : Reims
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya






