Dari sisi spiritual, tradisi ini mengajak umat untuk tidak terlalu bergantung pada hal-hal visual dalam beriman. Dengan tidak melihat patung atau salib, umat didorong untuk lebih masuk ke dalam doa yang mendalam, merenungkan sengsara Kristus secara pribadi, dan memperkuat relasi batin dengan Tuhan. Ini menjadi momen untuk memurnikan iman dari sekadar simbol luar menuju pengalaman iman yang lebih sejati.
Menariknya, salib yang ditutup akan dibuka kembali pada perayaan Jumat Agung, khususnya dalam ritus penghormatan salib. Pada saat itu, salib dihadirkan kembali secara perlahan kepada umat, menciptakan momen yang sangat kuat secara emosional dan spiritual. Umat diajak untuk memandang salib sebagai tanda keselamatan, bukan sekadar simbol penderitaan.
Sementara itu, patung-patung biasanya tetap tertutup hingga perayaan Malam Paskah, ketika seluruh gereja kembali dihias dengan meriah sebagai tanda kebangkitan Kristus. Perubahan drastis dari suasana “kosong” dan gelap menuju terang dan penuh sukacita ini menjadi simbol kuat kemenangan hidup atas kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan demikian, tradisi menutup patung dan salib bukanlah praktik tanpa arti, melainkan bagian penting dari perjalanan liturgi Gereja Katolik. Melalui simbol sederhana ini, umat diajak untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri iman, merenungkan penderitaan Kristus, dan mempersiapkan diri menyambut sukacita Paskah dengan hati yang diperbarui.
Tradisi ini mengingatkan bahwa iman bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi tentang apa yang dialami dan dihayati dalam hati. Dalam keheningan dan kesederhanaan itulah, makna sejati Prapaskah menemukan tempatnya.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







