Senja mulai menebarkan warna jingga di atas perairan Labuan Bajo saat Arya dan Rina duduk di ruang tunggu Bandara Komodo. Di antara ransel berisi pakaian kotor dan suvenir kerajinan tangan, ada satu tas jinjing yang mereka jaga dengan sangat hati-hati. Isinya bukan barang mewah, melainkan oleh-oleh paling berharga dari perjalanan mereka kali ini: sekantong penuh Kompiang dari Theresa Bakery.
“Hati-hati, Mas. Aset berharga kita ada di dalam situ,” canda Rina sambil melirik tas kain di pangkuan Arya.
Arya tersenyum. “Tenang saja. Kompiang Theresa Bakery aman bersamaku. Aku tidak sabar membayangkan wajah teman-teman di Jakarta saat mencicipi ini.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi mereka, kompiang ini lebih dari sekadar roti. Ini adalah potongan kenangan dari petualangan mereka di Flores. Kemarin, setelah puas menikmati keindahan Pulau Padar dan Pink Beach, mereka sengaja menyisihkan waktu untuk berburu kuliner otentik. Pilihan mereka jatuh pada Theresa Bakery, sebuah toko roti sederhana namun legendaris yang direkomendasikan banyak orang.
Sesampainya di sana, mereka disambut oleh aroma khas wijen panggang yang menguar dari dalam toko. Di balik etalase kaca, tumpukan kompiang berwarna cokelat keemasan tampak begitu menggoda. Mereka bertemu langsung dengan sang pemilik, Bapak Viktor Mantara, seorang pria ramah yang dengan bangga menceritakan kisahnya.
Penulis : Fons Abun
Halaman : 1 2 Selanjutnya







