INFOLABUANBAJO.ID — Nama lengkapnya Wilfridus Fidelis Pranda. Lahir 10 Oktober 1949 di kampung kecil Pogo, desa Wewa, Kecamatan Welak—jauh dari hingar-bingar politik nasional Tapi siapa sangka, dari dusun sederhana itu tumbuh seorang tokoh yang kelak jadi arsitek berdirinya Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).
Sejak 1 September 2003, tepat setelah Manggarai Barat resmi dimekarkan dari induknya, Fidelis dipercaya menjadi Penjabat Bupati pertama. Tugas berat menanti: menyusun pemerintahan, membentuk struktur baru, dan mempersiapkan pilkada langsung pertama.
Dan benar saja, dalam Pilkada 2005, ia tak hanya ikut serta—tapi menang bersama pasangannya Agustinus Ch. Dula. Mereka memimpin sampai 2010. Tapi masa jabatan ini bukan perjalanan mulus. Sebaliknya, penuh dengan kontroversi dan perjuangan hukum berdarah dingin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebijakan Berani dan Harga yang Harus Dibayar
Salah satu keputusan Fidelis yang paling dikenang sekaligus dikecam adalah pemberian izin tambang di Batu Gosok. Izin itu memicu kemarahan banyak pihak—terutama gereja dan aktivis lingkungan. Lokasi yang dianggap sakral, malah dijadikan area eksplorasi. Tekanan pun datang dari segala arah. Tapi Fidelis tetap pada pendiriannya: pembangunan dan investasi adalah jalan untuk Mabar bangkit.
Namun ujian terbesar datang pasca kekalahannya dalam Pilkada 2010. Tak tinggal diam, Fidelis menggugat SK Mendagri ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Ia menang, bahkan hingga Mahkamah Agung (putusan No. 346 K/TUN/2011). Tapi, sayangnya, hasil itu tak pernah dieksekusi. Pemerintah pusat bergeming, dan lawannya tetap berkuasa.
Ia sempat kembali mencalonkan diri di 2015 dan 2020. Tapi jalan politiknya terus dijegal—oleh birokrasi, tekanan partai, bahkan usia yang makin uzur. Namun Fidelis tak pernah menyerah. Bahkan di usia 70-an, ia masih semangat berkampanye.
Dari Politik ke Budaya: “Mata Manuk” yang Menghidupkan Ekonomi Perempuan
Fidelis tak hanya dikenal karena keberaniannya di panggung politik. Tahun 2007, bersama istrinya Maria Elisabeth C. Pranda, ia menggagas pelatihan tenun songke di Lembor. Dari sanalah lahir motif fenomenal: “Mata Manuk.”
Motif ini bukan sekadar hiasan. Ia melambangkan keberanian, perlindungan, dan penghormatan pada leluhur. Motif ini kini menjadi ikon songke Manggarai Barat—bahkan dijadikan cenderamata resmi pada KTT ASEAN ke-42!
Di balik keindahan itu, ada pemberdayaan nyata. Fidelis membentuk kelompok-kelompok penenun perempuan, menyediakan dana bahan baku, dan memasarkan produk mereka. Tenun bukan lagi sekadar warisan, tapi jalan ekonomi baru bagi banyak keluarga desa.
Warisan Tak Terhapus Waktu
Gedung-gedung perkantoran dan infrastruktur dasar di Labuan Bajo hari ini—adalah buah tangan Fidelis. Ia meletakkan fondasi saat kota ini belum dikenal dunia.
Bupati Dula—yang pernah menjadi wakilnya—menyebutnya “pemimpin berani ambil keputusan”. Gubernur NTT Frans Lebu Raya bahkan menyebut Fidelis sebagai “bapak pembangunan” Manggarai Barat.
Ia mungkin gagal kembali berkuasa. Tapi jejaknya tak bisa dihapus. Dari jalan desa, kebijakan pariwisata, hingga motif songke yang kini mendunia—semua berakar dari masa pemerintahannya.
Akhir Hayat Seorang Pejuang
Pada 17 Maret 2020, pukul 18.00 WITA, Fidelis mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Kasih Ibu, Denpasar. Tumor otak mengakhiri hidupnya di usia 70 tahun. Tapi bukan dalam kesepian—melainkan dengan penghormatan.
Bendera setengah tiang dikibarkan selama seminggu. Jenazahnya dijemput dan diarak oleh ribuan warga dari bandara ke pusat kota Labuan Bajo. Tangis, doa, dan pujian mengiringi perjalanan terakhirnya—sebuah perpisahan bagi tokoh yang tak pernah lelah membangun.
Legenda Fidelis: Pemimpin yang Tak Pernah Tunduk
Kisah Fidelis Pranda adalah kisah tentang keberanian. Tentang keputusan yang tak populer, tapi dilakukan demi kemajuan. Tentang gugatan yang dimenangkan, tapi tak dijalankan. Tentang cinta pada budaya, dan semangat tak pernah mati.
Kini, ia telah tiada. Tapi nama Fidelis tetap hidup—dalam motif songke, jalan-jalan desa, dan ingatan rakyat Mabar yang pernah dipimpinnya.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Dirangkum Dari Sejumlah Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya







