INFOLABUANBAJO.ID — Kasus rabies kembali menjadi momok menakutkan di Manggarai Raya. Sejumlah warga yang digigit anjing terindikasi rabies dilaporkan meninggal setelah menunjukkan gejala klasik penyakit yang hampir selalu berujung pada kematian ini: hidrofobia, halusinasi, kejang, hingga akhirnya napas terhenti. Tragedi yang berulang ini bukan lagi sekadar kabar duka—ini adalah alarm keras bahwa ada sesuatu yang sangat salah dalam cara kita memandang hubungan antara manusia, hewan, dan tanggung jawab sosial.
Namun anehnya, setiap kali kasus rabies mencuat, selalu ada suara-suara yang lebih sibuk membela anjing ketimbang berbicara tentang nyawa manusia yang hilang. Seolah-olah, anjing menjadi objek rasa sayang yang jauh lebih penting daripada keselamatan masyarakat. Apakah kita sudah sampai pada titik di mana kemanusiaan menjadi nomor dua setelah cinta kepada hewan? Pertanyaan ini mungkin terdengar kasar, tetapi realitas sosial di Manggarai Raya memaksanya untuk muncul ke permukaan.
Rabies Bukan Sekadar Gigitan, Rabies Adalah “Vonis Mati”
Rabies adalah penyakit yang sangat mematikan. Begitu gejala muncul, peluang hidup hampir nol. Penyakit ini menyerang sistem saraf pusat, membuat penderitanya kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri sebelum akhirnya meninggal dengan cara yang sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi karena hampir seluruh kasus rabies sebenarnya bisa dicegah jika korban gigitan mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) dengan cepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun kenyataan di Manggarai Raya sangat jauh dari teori medis. Banyak korban terlambat mendapatkan vaksin karena dua alasan utama:
- Keterbatasan fasilitas kesehatan yang menyediakan VAR.
- Rendahnya kesadaran masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis.
Sebagian warga masih percaya pada pengobatan tradisional seperti mengoleskan minyak kelapa, bawang, atau ramuan tertentu. Padahal rabies bukan penyakit yang bisa dilawan dengan “ilmu kampung”. Ini bukan demam, bukan batuk, dan bukan luka biasa. Ini adalah virus yang menyerang otak dan mematikan.
Dan lebih menyakitkan lagi, ketika korban akhirnya mati, keluarga hanya bisa menyesal. Tetapi penyesalan itu datang terlambat—selalu terlambat.
Masalah Utama: Bukan Anjingnya, Tapi Sikap Kita
Di Manggarai Raya, anjing memiliki posisi khusus dalam budaya dan kehidupan sosial. Anjing dijadikan penjaga rumah, teman berburu babi, bahkan bagian dari identitas keluarga. Namun sayangnya, sebagian besar masyarakat memelihara anjing tanpa konsep tanggung jawab.
- Anjing dibiarkan berkeliaran bebas.
- Tidak pernah divaksin.
- Tidak diberi kalung atau tanda kepemilikan.
- Tidak dikendalikan ketika berada di tempat umum.
- Dan ketika menggigit orang, pemiliknya sering cuci tangan.
Inilah masalah inti: kita ingin memelihara, tapi tidak mau merawat. Kita ingin memiliki, tapi menolak bertanggung jawab.
Lebih tragis lagi, ketika pemerintah mencoba melakukan penertiban anjing liar, muncul kelompok pembela hewan yang menolak dengan emosional tanpa memahami konteks kesehatan masyarakat. Mereka berteriak, “Jangan bunuh anjing!” tetapi jarang atau bahkan tidak pernah bertanya:
“Apakah anjing itu sudah divaksin?”
“Apakah anjing itu dikendalikan?”
“Apakah keberadaannya membahayakan manusia?”
Yang mereka lakukan hanyalah membela tanpa dasar, tanpa kesadaran, tanpa empati kepada korban rabies yang meninggal dengan cara sangat menyakitkan.
Pertanyaan Kunci: Apakah Kita Lebih Sayang Anjing daripada Manusia?
Mari kita bicara jujur.
Tidak ada yang salah dengan mencintai hewan. Bahkan, mencintai hewan adalah tanda moralitas dan empati. Tetapi ketika cinta kepada hewan mengalahkan akal sehat dan merendahkan nilai nyawa manusia, di situlah peradaban mulai menurun.
Ketika ada korban rabies, kita berduka satu dua hari, lalu lupa. Tetapi ketika ada rencana sterilisasi atau eliminasi anjing liar, kita berteriak di media sosial, berbagi slogan kasih sayang, memakai narasi “anjing itu juga ciptaan Tuhan”.
Ya, benar. Tetapi manusia pun ciptaan Tuhan. Dan nyawa manusia tidak bisa digantikan oleh sentimen romantis terhadap hewan.
Di sinilah akar permasalahan sesungguhnya: kita hanya sayang anjing, tapi tidak peduli keselamatannya. Kita membiarkan mereka berkembang biak tanpa batas, tanpa vaksin, tanpa kandang, tanpa kontrol. Lalu ketika terjadi rabies, kita hanya bisa menyalahkan pemerintah.
Padahal, sebagian besar masalah rabies bermula dari rumah kita sendiri.
Kegagalan Pemerintah: Bukan Karena Tidak Tahu, Tetapi Tidak Serius
Pemerintah daerah juga tidak bisa lepas tangan. Rabies sudah menjadi masalah bertahun-tahun, tetapi langkah yang diambil selalu bersifat reaktif, bukan preventif.
Yang dilakukan pemerintah selama ini:
- Menunggu ada kasus rabies
- Lalu tergesa-gesa melakukan vaksinasi massal
- Lalu diam lagi sampai ada korban berikutnya
Ini bukan model penanganan kesehatan masyarakat. Ini pola pemadam kebakaran, yang hanya bergerak jika api sudah membakar rumah orang.
Penulis : Remigius Nahal
Halaman : 1 2 Selanjutnya






