Dapur adalah ruang khusus untuk menyimpan, meracik, mengolah, dan memasak aneka bahan pangan yang dipadu dengan bumbu penyedap rasa. Ketika semuanya tersedia, maka kita ‘dituntut’ untuk meracik sesuai porsi agar menghasilkan menu santapan yang tidak hanya kaya nutrisi, tetapi enak dan nikmat disantap.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ‘tata kehidupan’ kita berawal dari dapur. Pepatah Latin, “bona culina bona disciplina” yang berarti dapur baik membuahkan disiplin yang baik, sangat tepat membahasakan perihal signifikansi dari keberadaan dapur itu. Dengan agak bebas, peribahasa itu boleh ditafsir sebagai penanda bahwa ‘disiplin berawal dari rumah atau keluarga’.
Itu berarti jika sejak di dalam rumah, seorang anak dibiasakan hidup dalam “dapur yang baik” (berdisiplin), maka dalam hidup bersama selanjutnya, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat, ia tidak akan mengalami banyak kesulitan mewujudkan sikap disiplin. Dapur (keluarga) menjadi tempat pertama “memasak kehidupan anak” agar terlihat enak dan sedap ketika ‘disantap’ oleh masyarakat yang lebih luas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari sisi etimologi, kata disiplin lebih tepat diasosiasikan dengan murid. Kata disiplin berasal dari Bahasa Latin “discipulus” yang berarti murid. Tidak heran jika ‘disiplin’ selalu dihubungkan dengan pola hidup dan kebiasaan para murid di sebuah lembaga pendidikan.
Bahkan, kedisiplinan dipatok sebagai ‘ukuran’ apakah seseorang itu patut disebut murid atau tidak. Jika seorang murid tidak dapat mewujudkan kedisiplinan hidup, ia tidak layak disebut murid. Paling-paling kita hanya dapat mengatakan, “Ia baru dalam proses menjadi murid.” Saya kira, ada banyak, untuk tidak dibilang semua siswa kita, masuk dalam kategori ini.
Karena itu, adagium Latin di atas, tidak hanya tepat diletakkan dalam konteks rumah atau keluarga melainkan juga sekolah. Sekolah dapat diibaratkan sebagai dapur tempat para murid meracik diri dan memasak sehingga ketika keluar dari sekolah itu, mereka dapat menyajikan diri sebagai pribadi-pribadi yang ‘enak’ di mata masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, dapur sudah mengalami ‘transformasi’. Dapur tidak hanya sebagai ‘tempat memasak’, tetapi juga mencuci dan menyimpan pelbagai peralatan masak dan makan-minum. Karena itu, sangat diharapkan agar ‘dapur’ dalam kondisi bersih dan rapi. Kebersihan dan kerapian menjadi ‘kunci’ keberhasilan aktivitas memasak dan menyuguhkan makanan yang sehat dan berkualitas.
Jadi, kaum Adam mesti memberikan penghormatan dan penghargaan yang pantas kepada para ibu. Para lelaki tidak bisa ‘bergaya dan tersenyum bangga’ jika tidak mendapat dukungan dari para ibu. Ketertiban, keteraturan dan kelancaran sebuah acara sangat bergantung pada ‘keseriusan’ para ibu dalam mengolah segala yang hidup di dapur.
*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.
Halaman : 1 2







